Blogger templates

Jumat, 20 April 2012

EVALUASI DAN PENDEKATAN TES BAHASA



EVALUASI DAN PENDEKATAN TES BAHASA

A.    PENDAHULUAN
Evaluasi merupakan bagian dari kegiatan kehidupan manusia sehari-hari. Disadari atau tidak, orang sering melakukan evaluasi, baik terhadap dirinya sendiri, orang lain maupun lingkungannya. Demikian pula halnya dalam dunia pendidikan, untuk mencapai tujuan pendidikan khususnya tujuan pembelajaran tersebut maka perlu adanya evaluasi.[1]
Keberhasilan proses belajar mengajar di kelas dapat dilihat dari sejauh mana penguasaan kompetensi yang telah dikuasai oleh seluruh siswa di kelas itu. Pada dasarnya hasil belajar siswa dapat dinyatakan dalam tiga aspek, yang biasa disebut dengan domain atau ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.[2]
Dalam  proses  pengajaran, tes merupakan alat yang digunakan untuk mengetahui  tercapai atau tidaknya suatu standar kompetensi yang telah dipelajari oleh siswa                     di   setiap pembelajaran. Hal tersebut senada dengan pendapat ahli yang mengatakan bahwa tes merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah  ditentukan.
Tes bahasa dan pengajaran bahasa merupakan dua kegiatan yang berhubungan secara erat. Yang pertama merupakan bagian dari yang kedua. Tes bahasa dirancang dan dilaksanakan untuk memperoleh informasi mengenai hal ihwal yang berkaitan dengan keefektifan pengajaran bahasa yang dilakukan.
B.     PERMASALAHAN
Dari uraian di atas, pembahasan makalah ini difokuskan pada :
1.      Apa pengertian dan tujuan evaluasi ?
2.      Apasajakah macam-macam pendekatan tes bahasa ?
3.      Bagaimana sejarah perkembangan pendekatan tes bahasa ?
C.    PEMBAHASAN
1.      Pengertian dan Tujuan Evaluasi
Menurut Roestiyah N.K. dalam bukunya Masalah-Masalah Ilmu Keguruan menyebutkan pengertian evaluasi adalah sebagai berikut :
·         Evaluasi adalah proses memahami atau memberi arti, mendapatkan dan mengkomunikasikan suatu informasi bagi petunjuk pihak-pihak pengambil keputusan.
·         Evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa, guna mengetahui sebab-akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar.[3]
Tujuan Evaluasi yaitu sebagai berikut :
a.       Untuk mengetahui apakah siswa telah menguasai keterampilan atau pengetahuan dasar tertentu.
b.      Untuk mengetahui kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan siswa dalam proses belajar.
c.       Untuk merangsang peserta didik dalam menempuh proses pembelajaran.
d.      Untuk mengetahui tingkat efektivitas dari metode-metode pengajaran yang telah dipergunakan dalam proses pembelajaran.[4]
Melihat pengertian dan tujuan dari diadakannya evaluasi yang telah dipaparkan di atas, maka evaluasi sudah tidak dapat terelakkan lagi dari pendidikan secara umumnya dan proses pembelajaran secara khususnya. Dengan adanya evaluasi proses pembelajaran akan berlangsung dengan lebih baik dan tujuan yang hendak dicapai dalam proses pembelajaran tersebut lebih mudah untuk tercapai.
2.      Macam-Macam Pendekatan Tes Bahasa
a)      Pendekatan Tradisional
Pendekatan tradisional adalah istilah yang dipergunakan untuk mengacu pada penyelenggaraan (baca: perencanaan dan pelaksanaan) tes bahasa yang cenderung mengadopsi prinsip bahwa tes bahasa  dititikberatkan pada tes tatabahasa dan terjemahan.  Latar belakangnya  adalah adanya pengaruh mainstream pengajaran bahasa yang  dikenal dengan sebutan metode tatabahasa-terjemahan (grammar translation method).
Metode ini, seperti yang dikemukakan oleh Richards dan Rogers (1988:3-4), memiliki prinsip-prinsip pengajaran antara lain: (a) mempelajari bahasa asing adalah mempelajari   bahasa dengan tujuan agar dapat membaca kesusasteraannya; (b) membaca dan menulis adalah fokus utama pengajaran, © ketepatan dalam penerjemahan sangat ditekankan, dan (d) tatabahasa harus diajarkan secara deduktif, yakni beranjak dari kaidah-kaidah lalu menuju pada contoh-contoh ilustrasinya.[5]
Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, maka pendekatan  tes bahasa yang berkembang pada saat itu  mengisyaratkan pemakaian karya sastra. Karya sastra dalam hal ini dianggap merupakan pemakaian bahasa yang ideal dari penuturnya sehingga  evaluasi terhadap penguasaan bahasa seseorang dengan menggunakan tes bahasa dilakukan dengan menggunakan teks karya sastra. Kemudian bentuk tes bahasa yang dikembangkan adalah  penerjemahan dan atau penulisan esai. Dalam perkembangannya, tes bahasa dengan prinsip-prinsip, model, dan karakter seperti ini disebut pendekatan esai dan  terjemahan.
b)     Pendekatan Diskret
Dalam pendekatan ini, istilah diskret oleh Savignon (1983) digunakan untuk menggambarkan dua  aspek yang berbeda dalam tes bahasa, yakni (1) isi atau tugas, dan (2) model jawaban dan penyekoran jawaban.
Dari segi isi atau tugas, tes dengan pendekatan ini menyangkut satu aspek kebahasaan saja pada satu kesempatan pengetesan, misalnya aspek fonologi, morfologi, sintaksis, atau kosa-kata saja. Tiap satu butir soal hanya dimaksudkan untuk mengukur satu aspek kebahasaan saja.  Dari segi model jawaban, tes dengan pendekatan ini berupa penjodohan (matching), benar-salah (true-flase), pilihan ganda (multiple choiche), atau mengisi kotak kosong yang disediakan dengan jawaban yang sudah tersedia pada kolom lain. Dari segi penyekoran jawaban, model jawaban yang seperti itu sangat memudahkan guru atau korektor dalam memberikan penilaian. Penyekoran berdasarkan model jawaban seperti itu memiliki reliabilitas yang sangat tinggi. Dengan bantuan komputer misalnya, penyekoran jawaban hampir 100% tidak diragukan lagi keakuratannya.
Pendekatan diskret ini secara jelas mengadopsi prinsip-prinsip umum dalam  strukturalisme, behaviorisme, dan audiolingualisme. Dari strukturalisme, prinsip yang diambil adalah  (1) bahasa itu tuturan lisan dan bukan tulisan, dan  (2) bahasa itu merupakan suatu sistem. Pertama, prinsip bahwa bahasa itu tuturan lisan telah menyadarkan para ahli tes bahasa bahwa tuturan lisan adalah bahasa yang pertama dan utama dari manusia. Karya sastra yang selama ini diagung-agungkan sebagai satu-satunya sumber pengetesan bahasa akhirnya disadari hanyalah rekonstruksi dari pemakaian bahasa yang sesungguhnya. Keyakinan baru akan prinsip ini kemudian membongkar kebiasaan lama pengetesan bahasa yang melulu hanya menggunakan karya sastra semata. Kedua, prinsip bahwa bahasa itu merupakan sistem menunjukkan bahwa bahasa dipandang memiliki sub-sub unit  yang saling berhubungan membentuk suatu struktur, mulai dari tingkat bunyi, kata, dan kalimat. 
Bentuk tes diskret kebahasaan yang dapat dikembangkan :
o   Pertama adalah tes bunyi bahasa. Tes bunyi bahasa dapat berupa: mengenal bunyi bahasa, membedakan bunyi bahasa, melafalkan bunyi bahasa, melafalkan kata-kata, melafalkan pasangan kata, melafalkan rangkaian kalimat, dan membaca teks.
o   Kedua adalah tes kosa kata. Tes ini bertujuan untuk mengungkapkan penguasaan kosa kata testi, baik secara pasif reseptif maupun aktif produktif.  Tes ini meliputi: menunjukkan benda berdasarkan kata yang disebutkan, memperagakan berdasarkan kata yang disebutkan, memberikan padanan kata, memberikan sinonim kata, memberikan lawan kata, dan melengkapi kalimat.
o   Ketiga adalah tes tatabahasa. Tes ini meliputi pembentukan kata, pembentukan frasa, dan pembentukan kalimat. Variasi bentuk tes ini antara lain (a) pada pembentukan kata: menunjukkan asal kata, membentuk kata turunan, menyesuaikan bentuk kata; (b) pada pembentukan frasa: menyusun kata-kata, melengkapi kata menjadi frasa, membentuk frasa, menjelaskan makna frasa; (c) pembentukan kalimat: mengenal kalimat, membentuk kalimat, menyusun kalimat, dan mengubah kalimat.
c)Pendekatan Integratif
Menurut Carroll (1961) disebut  pendekatan integratif. Jika dalam pendekatan diskret, aspek-aspek kebahasaan dan kemampuan berbahasa itu diperlakukan secara terpisah, maka dalam pendekatan integratif aspek-aspek bahasa dan kemampuan berbahasa itu dicakup secara bersamaan.
Menurut Oller (1979) jika dalam tes diskret hanya diujikan satu aspek kebahasaan saja pada satu waktu, maka dalam tes integratif berusaha diukur beberapa aspek kebahasaan secara bersamaan.  Prinsip ini sesuai dengan pandangan  psikologi Gestalt yang intinya “bahwa tingkah laku itu dipelajari sebagai kesatuan yang tidak terpisahkan atau “gestalts”[6]
Berdasarkan pandangan ini, maka tes integratif tidak secara khusus mengeteskan salah satu aspek kebahasaan seperti fonologi, morfologi, sintaksis, atau kosa kata, atau salah satu dari kemampuan berbahasa  seperti membaca, menulis, berbicara, atau menyimak, melainkan sebuah tes dalam satu waktu meliputi beberapa aspek kebahasaan dan kemampuan berbahasa sekaligus.
Mengubah bentuk suatu kalimat menjadi bentuk kalimat yang lain, misalnya, tidak saja menuntut kemampuan testi tentang pengetahuan struktur kalimat, melainkan juga memerlukan penguasaan perubahan bentuk kata, dan bahkan makna kata yang merupakan bagian dari penguasaan kosa kata.
d)     Pendekatan Pragmatik
Pendekatan pragmatic pada awalnya digunakan dalam kaitannya dengan teori tentang kemampuan memahami berdasarkan kemampuan tata bahasa pragmatik (pragmatic expectancy grammar).  Kemampuan itu merupakan kemampuan untuk memahami teks atau wacana, tidak hanya dalam konteks linguistic melainkan juga dengan memanfaatkan kemampuan pemahaman unsur-unsur ekstra linguistic (seluk beluk bidang yang dibahas dalam teks bacaan.
e)Pendekatan Komunikatif
Tes bahasa komunikatif  adalah tes yang melibatkan konsep kompetensi komunikatif. Kompetensi komunikatif adalah suatu kompetensi yang melihat kemampuan pelajar tidak hanya kemampuan membentuk kalimat yang benar tetapi juga menggunakannya secara tepat.[7]
Tes bahasa secara komunikatif bertujuan untuk mengukur bagaimana orang yang diuji mampu menggunakan bahasa di dalam situasi kehidupan nyata.
3.      Sejarah Perkembangan Tes Bahasa
Sampai saat ini telah ada beberapa ahli tes bahasa yang secara khusus membahas perkembangan pendekatan  tes bahasa. Beberapa ahli tes bahasa itu adalah Spolsky (1978;1981), Oller (1979), Hinofotis (1981), Masden (1983),  Weir (1990), dan Brown (1996). Mereka telah berupaya menyajikan suatu  sejarah perkembangan pendekatan tes bahasa mulai dari masa pelahiran sampai dengan masa perkembangan mutakhirnya.[8]
Istilah periodisasi dihindari mengingat bahwa pelahiran pendekatan dalam tes bahasa sering terjadi secara simultan, tidak selalu kronologis, serta kecenderungan pemakaian satu pendekatan dengan pendekatan yang lain kerap kali terjadi dalam kurun waktu bersamaan di beberapa tempat yang berbeda di dunia ini.
Perkembangan pendekatan tes bahasa dimulai dengan pola pikir pra-ilmiah. Tes bahasa dalam periode ini hanya mendasarkan diri  pada intuisi, kesan dan subjektivitas guru, dan tidak mendasarkan diri pada bidang keilmuan  lain seperti psikologi dan linguistik. Pada perkembangan awal ini, tes bahasa yang dilakukan disebut  dengan Pendekatan Tradisional.
Pada perkembangan berikutnya, pendekatan tes bahasa mulai  mendasarkan diri pada bidang-bidang keilmuan terkait seperti strukturalisme dalam linguistik,  audiolingualisme dalam pengajaran bahasa,   behaviorisme atau kognitivisme, serta psikometrik,  dalam bidang psikologi. Perkembangan pemikiran dalam bidang  linguistik dan psikologi ini di satu pihak, dan perkembangan pemikiran dalam model pengajaran bahasa di pihak lain, telah mendorong lahirnya  Pendekatan  Diskret dan Pendekatan Integratif dalam tes bahasa. Guru-guru bahasa di kelas mulai merancang tes, menyusun bentuk-bentuk tes, menyelenggarakan tes, dan mengukur hasil tes dengan menggunakan prinsip-prinsip baru yang ditemukan dan dikembangkan dalam linguistik, psikologi, dan pengajaran bahasa.
Yang terakhir, seiring dengan berkembangnya pemikiran dalam bidang psikolinguistik dan sosiolinguistik, serta pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa. Tes bahasa  yang berkembang adalah tes bahasa dengan Pendekatan pragmatik dan Pendekatan komunikatif yang merupakan pengembangan lebih lanjut dari pendekatan integratif. Dua pendekatan ini, untuk saat ini, dianggap sebagai pendekatan mutakhir dalam penyelenggaraan tes bahasa.
D.    SIMPULAN
Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :
§  Evaluasi merupakan satu hal yang penting untuk dilaksanakan dalam proses pembelajaran, agar tujuan yang hendak dicapai dapat berjalan dengan baik.
§  Macam-macam pendekatan tes bahasa
-Pendekatan Tradisional
-Pendekatan Diskret
-Pendekatan Integratif
-Pendekatan Pragmatik
-Pendekatan Komunikatif
§  Sejarah perkembangan tes bahasa terjadi tidak secara kronologis maupun periodic, karena munculnya pendekatan tes bahasa yang baru terkadang muncul secara bersamaan.




DAFTAR PUSTAKA
Ø  Acep Hermawan. 2011. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. PT. Remaja Rosdakarya : Bandung.
Ø  Anas Sudijono. 1996. Pengantar Evaluasi Pendidikan. PT. Raja Grafindo Persada : Jakarta.
Ø  Slameto. 2001. Evaluasi Pendidikan. PT. Bumi Aksara : Jakarta.
Ø  http://perseba.blogspot.com/2009/11/pendekatan-tes-bahasa.html diambil pada tanggal 01 April 2012.
Ø  http://sejarah_tesbahasa.com. diambil pada tanggal 01 April 2012.
Ø  http://www.acam-macam_pendekatan_bahasa.com. diambil pada tanggal 01 April 2012.






[1] Slameto. 2001. Evaluasi Pendidikan. PT. Bumi Aksara : Jakarta.  hal.4.
[2] Acep Hermawan. 2011. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. PT. Remaja Rosdakarya : Bandung. Hal.276.
[3] Op.cit. Hal.6.
[4] Anas Sudijono. 1996. Pengantar Evaluasi Pendidikan. PT. Raja Grafindo Persada : Jakarta. Hal.16.
[6] http://www.acam-macam_pendekatan_bahasa.com. diambil pada tanggal 01 April 2012.
[7] Acep Hermawan. 2011. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. PT. Remaja Rosdakarya : Bandung. Hal.286..

[8] http://sejarah_tesbahasa.com. diambil pada tanggal 01 April 2012.

0 komentar:

Poskan Komentar

law

kp

mboah ah

Template by:

Free Blog Templates